Jumat, 07 Agustus 2015

Kisah Abstrack Funny


          Peristiwa ini terjadi kira-kira beberapa detik lalu, dimana kami semua (para pasukan Abstrack Funny) berkumpul bersama di pizza hut (begitu kira-kira kebohongannya). Tempat ini merupakan tempat yang sering kami kunjungi selain museum siwalima (kebohongan ini mulai di perpanjang). Tempat itu adalah pondok kecil milik tetangga saya yang bernama pondok “Alun sebuah simphoni, kata hati disadari (penggalan lirik lagu simphoni-Once)”. Se-lupa saya, saat itu yang ada hanya untai kata dari seluruh anggota kami yang jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari manis milik si dia (cieeeee). Saya, Feliks (anak dari bapak Toni), Alum (anak dari bapak Saleh), David (anak dari bapak Ateng), Raoul (anak dari bapak  Eli), Atik (anak dari bapak Icad),  Owel (nama apaan itu),,, ((Keponakan dari bapak Icad), Komeng (keponakan dari tante Fin), dan Nyong ( anak dari Om Buce). Kami sering kali berkumpul dan bermain bersama di dalam pondok ini. menceriterakan apa yang sebenarnya tidak perlu untuk diceriterakan (Ahahahahahahaaaa). Kami bermain guitar, menyanyikan lagu, membalas pantun, membuat lelucon, menjadi lelucon, menggoda wanita (setiap saat), bermain bola, menjadi bola, bermain domino dengan hukuman jongkok/memutihkan wajah dengan coretan bedak di wajah. Bermain uno, risk, apa lagi? Mungkin masih banyak tapi saya sudah mulai lelah untuk mengetiknya.   
            Kira-kira pukul 20:00 WIT, kita berkumpul lagi untuk menikmati suatu hidangan spesial yang kami masak secara bersama, sebut saja “Ayam bakar” (ayam yang sampai saat ini masih berkotek didalam perut kami). Entah dari mana ayam itu berasal, tiba-tiba saja kami dikagetkan dengan kedatanganya di depan pondok kami. Dengan polosnya seekor ayam yang tak berdosa  itu datang dan berkata” maukah kalian melahapku setelah aku mati”….jawab kami serempak “Mauuuuu”…(cerita ini semakin penuh dengan imajinasi).
             Sebelum ayam ini dihabisi secara masal, maka doa menjadi pembuka yang baik bagi setiap orang yang percaya dan tahu bersyukur kepada Tuhan. (ingat, dibelahan bumi yang lain masih ada manusia yang kelaparan). Setelah selesai berdoa, kami mulai melakukan apa yang sudah seharusnya kami lakukan. Satu per satu bagian dari anggota tubuh ayam yang telah terbakar kami hancurkan, demi kelaparan yang menyiksa keberadaan lapisan sel perut buncit kami.

            Ada lagi yang menjadi teman pelahap kami saat itu, sebotol “coca-cola”. Demi kebersamaan coca-cola selalu hadir. Dan demi keterpisahan the botol sosro yang menemani. Demi keputus-asaan Colo-colo yang menjanjikan. Dan demi kebahagiaan kita, maka dengan wanita siapa kita nanti, kita harus saling merelakan. Alum dengan tetangga, saya pernah dengan tetangga (bahkan sering), Raoul dengan tetangga lainnya, Rowel pernah mengintai dibalik awan. Atik menjadi pemain tetap, Nyong sebagai striker, dan David sebagai pemain cadangan yang siap mendengar jeritan hati kami saat kami yang terluka oleh kekeliruan yang kami lakukan. Lalu, dimanakaha komeng saat itu??? Komeng hanya bisa melihat aksi kami dengan tersenyum dalam hati. (kalian,,, tak pernah berbagi sedikit) saya juga ingin, tapi belum terlaksana(ukir komeng di dalam hati). Lalu cerita ini harus diakhiri, karena masih ada lanjutan yang sudah dipersiapkan di episode selanjutnya bersama para pemain yang lain. Entahlah, malam itu terasa damai dihati. Keadaan malam itu terlalu indah untuk dilupakan. Ketika berkumpul dan melakukan apa yang sekarang tak bisa diulangi lagi. Huuuu,,, “Abstrack Funny”


Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...