Huuuuuuhhhh… pinggang ini terasa
nyeri. Mungkin karena sering mengangkat nyamuk. tapi begitulah kehidupan, harus
disyukuri ada apanya. Lagi-lagi kebohongan ini dilanjutkan kembali, namun
dengan cerita yang sedikit berlebihan. Ini cerita tentang kerasnya perjuangan
mengejar seorang wanita yang tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat
penelitian saya. Dia tinggal di asrama, dan saya di lab zoologi. Bukankah itu menarik
untuk dibaca, bukan?
Nama samaranya adalah Hawa, dan nama saya tetap sama, Adam!!! (padahal bukan)…Dia adalah mahasiswa dari Fakultas Pertanian (kali ini benar-benar jujur). Dan semoga tulisan ini dibacanya suatu saat. Namanya juga penulis. apa yang ingin dia tulis, tulislah saja. Asalkan tidak mengandung unsur kimia, unsur hara, dan unsur SARA. Sering saya lihat dia di sela-sela pintu, sela-sela jendela, dan di sela-sela kesibukan saya. pertama kali saya melihatnya, saya tidak langsung jatuh hati. Kemudian berulang, dan terus begitu, namun benar…
saya tertarik dengan matanya yang begitu tenang (ancoooooooorrrrrrrr sudahghghgh). Apakah saya akan benar-benar menyukainya, tentu tidak. saya juga tidak tahu, namanya juga tatapan. Beberapa kali saya dan dia bertemu tanpa disengaja. Walaupun disengaja, saya juga tetap ingin bertemu dengan dia. Setiap manusia punya seseorang yang diidolakan. Nah dia ini bukan yang saya idolakan.
Di lain sisi, ada sekian ribu wanita di kampus yang kecantikannya di atas rata-rata. Mereka sungguh indah jika dilihat dalam kedaan perut yang sedang kenyang. Namun saat lapar mereka sama saja dengan yang lain. Dan tentang wanita itu lagi. Pernah sempat kita berbincang selama beberapa abad, sampai kepada masa Abad Kejayaan, Joda Akbar, hingga serial Elif dari negara Turki. Beberapa kali saya harus naik ke atas genteng fakultas, hanya untuk melihat sunset yang begitu menawan disamping mencari sunset yang lain. Begitulah kadang-kadang anak muda, kalau ada maunya ,langitpun sanggup di jejaki. Bagitulah kadang-kadang mahasiswa, kalau sedang suka sesuatu, gentengpun jadi tempat untuk mencari cinta. Apakah cinta ada diatas genteng? Tentu tidak. Apakah genteng dapat menemukanmu dengan rasa yang sedang mengukir di dalam hatimu? tentu saja bisa.
Nama samaranya adalah Hawa, dan nama saya tetap sama, Adam!!! (padahal bukan)…Dia adalah mahasiswa dari Fakultas Pertanian (kali ini benar-benar jujur). Dan semoga tulisan ini dibacanya suatu saat. Namanya juga penulis. apa yang ingin dia tulis, tulislah saja. Asalkan tidak mengandung unsur kimia, unsur hara, dan unsur SARA. Sering saya lihat dia di sela-sela pintu, sela-sela jendela, dan di sela-sela kesibukan saya. pertama kali saya melihatnya, saya tidak langsung jatuh hati. Kemudian berulang, dan terus begitu, namun benar…
saya tertarik dengan matanya yang begitu tenang (ancoooooooorrrrrrrr sudahghghgh). Apakah saya akan benar-benar menyukainya, tentu tidak. saya juga tidak tahu, namanya juga tatapan. Beberapa kali saya dan dia bertemu tanpa disengaja. Walaupun disengaja, saya juga tetap ingin bertemu dengan dia. Setiap manusia punya seseorang yang diidolakan. Nah dia ini bukan yang saya idolakan.
Di lain sisi, ada sekian ribu wanita di kampus yang kecantikannya di atas rata-rata. Mereka sungguh indah jika dilihat dalam kedaan perut yang sedang kenyang. Namun saat lapar mereka sama saja dengan yang lain. Dan tentang wanita itu lagi. Pernah sempat kita berbincang selama beberapa abad, sampai kepada masa Abad Kejayaan, Joda Akbar, hingga serial Elif dari negara Turki. Beberapa kali saya harus naik ke atas genteng fakultas, hanya untuk melihat sunset yang begitu menawan disamping mencari sunset yang lain. Begitulah kadang-kadang anak muda, kalau ada maunya ,langitpun sanggup di jejaki. Bagitulah kadang-kadang mahasiswa, kalau sedang suka sesuatu, gentengpun jadi tempat untuk mencari cinta. Apakah cinta ada diatas genteng? Tentu tidak. Apakah genteng dapat menemukanmu dengan rasa yang sedang mengukir di dalam hatimu? tentu saja bisa.
Karena wilayah teritorialnya dapat
dipantau dari ketinggian fakultas….maka naiklah , tempatkan kakimu yang rapuh
itu dengan hati-hati, dan tunggulah sampai dia pulang, dan tunggulah sampai dia
keluar. Sebelum bertemu, saya sudah buatkan sebuah tulisan singkat yang saya lipat
menjadi perahu kertas. Apakah perahu kertas bisa diterbangkan diatas ketinggian
yang tak pasti? mungkin saja bisa, jika Tuhan mengijinkan. Tapi saya mengubah
setiap lipatan itu menjadi sebuah pesawat kertas(sudah mulai puitis).
Dan tiba-tiba diapun datang dari arah
yang tak saya pikirkan. Saya hanya memantau dari atas genteng, dan memanggil
namanya dengan keras, “Ne mingse…mingse haw, haw ayam” artinya, hawa, hawa,
mengapa kamu tak mempedulikanku?, lanjut saya, “Hawa, ambilah pesawat kertas
ini”. Dia menatapku dalam. Dia berteriak dari bawah “ apa yang kamu inginkan
dariku?” saya melempar pesawat kertas itu, seraya doa…kiranya pesawat itu
sampai tepat didepanya”. Ternyata angin membawa pesawat itu kembali kepada
saya. Saya mencobanya sekali lagi. akhirnya pesawat itu tepat mengenai bahunya.(misi
berhasil). Dia berteriak kembali, “ apakah kamu ingin saya membuka lipatan
pesawat ini dan membaca tulisan jelekmu???”. Saya tak menjawab, hanya tersenyum
dalam hati sambil berkata “ia, itu yang saya maksud”. Ternyata dia mengerti apa
yang hati saya rasakan(cieeeeeeee)….tanganya yang halus berani membuka kertas
putih yang telah diisi dengan tinta-tinta kehidupanku. Sebuah tulisan singkat,
padat dan jelas dibancanya. “ siapa nama presiden RI yang pertama” (hanya iklan
saja).
Tulisan itu berbunyi demikian : “Banyak orang takut mengenal orang lain, sehingga perkenalan mulai
hindari. Mereka tak pernah paham mengapa seseorang ingin mengenal mereka.Tak
semua itu karena cinta. Tak semua itu karena suka. Bisa saja hanya ingin
menjadi teman, dan kemudian menjadi pacar. Dan kemudian saling mencintai, dan
saling melengkapi. Namun pikiran manusia terlalu terfokus pada hal-hal yang
sering mereka lihat, dan apa yang mereka dengar. Hai, wanita yang tanganmu
telah lancang membuka pesawat kertas ini, aku ini hanya ingin berkenlan. Ku
tunggu kau di genteng ini untuk melihat indahnya warna langit sore ini. semoga
kamu selalu aman dalam lindungan Tuhan”…
Sedang asik menulis, panggilan mendadak telah
menunggu… sampai bertemu dalam lanjutan ceritanya.
Feliks Savero
Pattinama
Meja Kaca, 8 Agustus
2015.
