Minggu, 09 Agustus 2015

Kita bertemu lagi, hawa (Episode 2)



Sebaiknya tulisan ini kembali dilanjutkan, biar kita sama-sama akan tahu akhir dari ceritanya.   Saya menatap saja dari atas genteng. Genteng yang gantengnya seperti saya. genteng yang selalu menjadi inspirasi dibalik sisi romantis saya. wanita itu terdiam sejenak setelah semua tulisan ia bacakan.  Dia mengangkat kepalanya dan melihat keatas, lalu ia melambaikan tangan berulang kali kepada saya. entah apa maksud dari lambaian tangan alainya kepada saya dari bawah sana. Apakah dia sudah muak, ataukah masih ingin digoda lagi dengan cara-cara lain dari saya, saya tidak tahu. Dia segera pergi sambil memegang kertas yang seharusnya sudah dikembalikan kepada saya. Tapi hal itu tidak terjadi. Pikir saya dia akan naik dan menjawab tantangan saya. namun ,senja sore itu hanya bisa saya nikmati seorang diri saja. Dari atas sini, saya melihatnya terus hingga dia masuk ke dalam asmaranya. Maksud saya, ke dalam asramanya. Langit sore ini begitu indah. Marilah menikmati sedikit dengan bebaring kaku dan mendengar guman hembusan angin yang melancarkan aliran darah. Hingga malam saya habiskan waktu sejenak di tempat yang tinggi itu. Aaaghhh…. Saya harus kembali ke dalam Lab untuk memperhatikan anak-anak mencit dan tikus putih yang menjadi tugas saya. Wanita itu? “nanti saja”… “nanti kita akan bertemu lagi” “nanti, bila malam ini segera terganti dengan hari esok”. Pikiran ini tak ingin di campur adukan dengan wanita dulu. Wanita bisa saja melukai, namun mencit dan tikus putih ini tidak. Mereka harus diperhatikan, namun tidak boleh diberi ASI. Mereka hanya perlu makanan alami, empat sehat dan lima sempurna. Mereka harus saya perhatikan, namun tak boleh sampai saya jatuh cinta dengan mereka. Mereka itu para hewan, dan saya manusia. Manusia dan hewan tak harus saling mencintai, apalagi menikah. saya katakan itu berulang kali, agar kemungkinan buruk tidak terjadi. 
            Apa yang saya lakukan hingga pagi, saya tak menulisnya lengkap. Pergantian hari pun terjadi, dan hari baru menjadi harapan bagi saya untuk mengejar senja sore bernama Hawa itu. ouh,,,, wanita itu. wanita itu… saya harus menyiapkan segala sesuatu untuk menemui dia lagi. Namun hal itu tidaklah gampang. Hanya keajaiban di hari ini untuk dapat mempertemukan kita lagi.
            Seperti ada suara yang berseru-seru di padang gurun bagi saya, “keluarlah dan duduklah di depan fakultasmu” ”berpalinglah kekiri, kekiri manise”, “kau akan temukan apa yang kau cari dihari kemarin”. Lampu Lab saya padamkan, dan saya keluar mengikuti suara hati yang berulang memompa jantung saya. Belum lima menit menancapkan bokong di atas trotoar fakultas, pandangan mata mendapatkan apa yang paling indah hari ini. Mas bakso telah datang dengan dagangannya. Apa boleh buat, saya harus membelinya. Mungkin semangkuk ini bisa menjadi teman menunggu hingga ada yang lewat. “mas, aye pesan 1 mangkuk bakso” tak pakai mie dan laksa, cukup pake hati mas saja ya”. Rayu teman saya. (kalian pikir saya yang merayu),,,menemani teman gendut saya makan, saya terus mengintai ke sisi semua jalan yang terjangkau oleh mata saya. “ayo lewat, lewat jalan mana saja, saya akan kejar kamu”. Jangankan tembok, gedungpun saya tak berani. Semangkuk bakso terbayar oleh teman yang sudah kenyang menandakan awal yang baik bagi perjuangan saya. “ini dia yang saya tunggu”.”Hawa telah datang!!! Adam  tak boleh terlalu lama bermain di taman eden ini.  “Ndut, saya pergi dulu” segera saya kabur setelah mengucapkan kata kepada teman saya itu. terbayang sudah apa yang harus saya lakukan hari ini di depan mata wanita itu. seekor kuda telah terikat di depan fakultas. “Ini kuda siapa”, “lepaskan tali, dan tunggangi, lalu kejarlah dia segera”. “jangan buang-buang sampah, kalau kamu terlambat, kamu tidak akan dapat berbicara dengannya”. Semua rasa semakin mengaduk ulu hati ini. tangannya kugenggam sejenak dan kusodorkan muka pucat pasifku di depannya. “Hy, selamat pagi, saya datang untuk menggaggumu lagi”. “Apa kabarmu hari ini???” … “ Saya ini sudah terlambat kuliah,lepaskan tangan saya” jawabnya… Saya pikir waktu ini tidak tepat untuk mengajak dia berbicara.  Jarak perbincangan juga harus terputus, lantaran dia semakin dekat dengan Fakultasnya. Karena tak banyak orang pada suasana pagi hari itu, saya berteriak dengan suara yang keras namun membelakangi dia sambil menuju arah yang berlawanan :
Selamat  mengejar mimpimu pagi ini, HawaNantinya suatu saat jika kamu berada dalam kesusahan, dan tidak ada seorang pria yang dapat menolongmu lagi, maka saya ini terbuka untuk menjadi penolongmu” saya mungkin adalah orang baru,namun pribadi saya yang suka menolong wanita tetaplah sama sepanjang waktu”...(soooooooooookkkkkkkkkkk)
“bagaimana jika kamu tak ada saat saya kesusahan” dia menjawab…
Saya tak menjawabnya, saya pergi ke fakultas, dan dia menuju fakultasnya…
“Kita akan bertemu lagi, kita akan bertemu”… “apapun yang akan terjadi saya akan terus mencarimu di lain hari lagi, hawa”.

Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...