Sebaiknya
tulisan ini kembali dilanjutkan, biar kita sama-sama akan tahu akhir dari
ceritanya. Saya menatap saja dari atas
genteng. Genteng yang gantengnya seperti saya. genteng yang selalu menjadi
inspirasi dibalik sisi romantis saya. wanita itu terdiam sejenak setelah semua
tulisan ia bacakan. Dia mengangkat
kepalanya dan melihat keatas, lalu ia melambaikan tangan berulang kali kepada
saya. entah apa maksud dari lambaian tangan alainya kepada saya dari bawah sana.
Apakah dia sudah muak, ataukah masih ingin digoda lagi dengan cara-cara lain
dari saya, saya tidak tahu. Dia segera pergi sambil memegang kertas yang
seharusnya sudah dikembalikan kepada saya. Tapi hal itu tidak terjadi. Pikir
saya dia akan naik dan menjawab tantangan saya. namun ,senja sore itu hanya
bisa saya nikmati seorang diri saja. Dari atas sini, saya melihatnya terus
hingga dia masuk ke dalam asmaranya. Maksud saya, ke dalam asramanya. Langit
sore ini begitu indah. Marilah menikmati sedikit dengan bebaring kaku dan
mendengar guman hembusan angin yang melancarkan aliran darah. Hingga malam saya
habiskan waktu sejenak di tempat yang tinggi itu. Aaaghhh…. Saya harus kembali
ke dalam Lab untuk memperhatikan anak-anak mencit dan tikus putih yang menjadi
tugas saya. Wanita itu? “nanti saja”… “nanti kita akan bertemu lagi” “nanti,
bila malam ini segera terganti dengan hari esok”. Pikiran ini tak ingin di
campur adukan dengan wanita dulu. Wanita bisa saja melukai, namun mencit dan
tikus putih ini tidak. Mereka harus diperhatikan, namun tidak boleh diberi ASI.
Mereka hanya perlu makanan alami, empat sehat dan lima sempurna. Mereka harus
saya perhatikan, namun tak boleh sampai saya jatuh cinta dengan mereka. Mereka
itu para hewan, dan saya manusia. Manusia dan hewan tak harus saling mencintai,
apalagi menikah. saya katakan itu berulang kali, agar kemungkinan buruk tidak
terjadi.
Apa yang saya lakukan hingga pagi, saya tak menulisnya lengkap. Pergantian hari pun terjadi, dan hari baru menjadi harapan bagi saya untuk mengejar senja sore bernama Hawa itu. ouh,,,, wanita itu. wanita itu… saya harus menyiapkan segala sesuatu untuk menemui dia lagi. Namun hal itu tidaklah gampang. Hanya keajaiban di hari ini untuk dapat mempertemukan kita lagi.
Apa yang saya lakukan hingga pagi, saya tak menulisnya lengkap. Pergantian hari pun terjadi, dan hari baru menjadi harapan bagi saya untuk mengejar senja sore bernama Hawa itu. ouh,,,, wanita itu. wanita itu… saya harus menyiapkan segala sesuatu untuk menemui dia lagi. Namun hal itu tidaklah gampang. Hanya keajaiban di hari ini untuk dapat mempertemukan kita lagi.
Seperti
ada suara yang berseru-seru di padang gurun bagi saya, “keluarlah dan duduklah
di depan fakultasmu” ”berpalinglah kekiri, kekiri manise”, “kau akan temukan
apa yang kau cari dihari kemarin”. Lampu Lab saya padamkan, dan saya keluar
mengikuti suara hati yang berulang memompa jantung saya. Belum lima menit
menancapkan bokong di atas trotoar fakultas, pandangan mata mendapatkan apa
yang paling indah hari ini. Mas bakso telah datang dengan dagangannya. Apa
boleh buat, saya harus membelinya. Mungkin semangkuk ini bisa menjadi teman
menunggu hingga ada yang lewat. “mas, aye pesan 1 mangkuk bakso” tak pakai mie
dan laksa, cukup pake hati mas saja ya”. Rayu teman saya. (kalian pikir saya
yang merayu),,,menemani teman gendut saya makan, saya terus mengintai ke sisi
semua jalan yang terjangkau oleh mata saya. “ayo lewat, lewat jalan mana saja,
saya akan kejar kamu”. Jangankan tembok, gedungpun saya tak berani. Semangkuk
bakso terbayar oleh teman yang sudah kenyang menandakan awal yang baik bagi
perjuangan saya. “ini dia yang saya tunggu”.”Hawa telah datang!!! Adam tak boleh terlalu lama bermain di taman eden
ini. “Ndut, saya pergi dulu” segera saya
kabur setelah mengucapkan kata kepada teman saya itu. terbayang sudah apa yang
harus saya lakukan hari ini di depan mata wanita itu. seekor kuda telah terikat
di depan fakultas. “Ini kuda siapa”, “lepaskan tali, dan tunggangi, lalu
kejarlah dia segera”. “jangan buang-buang sampah, kalau kamu terlambat, kamu
tidak akan dapat berbicara dengannya”. Semua rasa semakin mengaduk ulu hati
ini. tangannya kugenggam sejenak dan kusodorkan muka pucat pasifku di depannya.
“Hy, selamat pagi, saya datang untuk menggaggumu lagi”. “Apa kabarmu hari ini???”
… “ Saya ini sudah terlambat kuliah,lepaskan tangan saya” jawabnya… Saya pikir
waktu ini tidak tepat untuk mengajak dia berbicara. Jarak perbincangan juga harus terputus, lantaran
dia semakin dekat dengan Fakultasnya. Karena tak banyak orang pada suasana pagi
hari itu, saya berteriak dengan suara yang keras namun membelakangi dia sambil
menuju arah yang berlawanan :
“Selamat mengejar mimpimu pagi ini, Hawa…Nantinya suatu saat jika kamu berada dalam kesusahan, dan tidak ada seorang pria yang dapat menolongmu lagi, maka saya ini terbuka untuk menjadi penolongmu” saya mungkin adalah orang baru,namun pribadi saya yang suka menolong wanita tetaplah sama sepanjang waktu”...(soooooooooookkkkkkkkkkk)
“Selamat mengejar mimpimu pagi ini, Hawa…Nantinya suatu saat jika kamu berada dalam kesusahan, dan tidak ada seorang pria yang dapat menolongmu lagi, maka saya ini terbuka untuk menjadi penolongmu” saya mungkin adalah orang baru,namun pribadi saya yang suka menolong wanita tetaplah sama sepanjang waktu”...(soooooooooookkkkkkkkkkk)
“bagaimana
jika kamu tak ada saat saya kesusahan” dia menjawab…
Saya
tak menjawabnya, saya pergi ke fakultas, dan dia menuju fakultasnya…
“Kita
akan bertemu lagi, kita akan bertemu”… “apapun yang akan terjadi saya akan
terus mencarimu di lain hari lagi, hawa”.
