Nirwanaku seakan berubah setelah beberapa
waktu lalu didatangkan lagi oleh suara yang tak ingin aku dengar. Pecundang
seperti aku membanggakan sesaat lalu pudar bersama ketukan yang terhenti. Ingin
rasanya meninggalkan memori lama dengan sempurna, tanpa mengingat dia yang
selalu datang dalam kehidupanku. Sejujurnya saja, belum ada apa-apa yang
terjadi antara aku dan dia selama kurun waktu yang mendimensi petaka hidupku
ini. namun ini rasa yang diberi Tuhan untuk tetap taat mencintai dia. Karena
mencintai itu sakit, jika tidak hidup bersama. Apapun alasanya jika kau tidak
mendapatkan apa yang hatimu inginkan, maka ragumu untuk melanjutkan kedamaian
hati tidak terbaca oleh siapapun juga. Ini dia wanita yang selalu mekar
dihatiku, tanpa matahari menunjukan dimana dan apa yang sementara menimpannya
di kota tempat tinggalnya. Masa kuliahku adalah taraf ke dua setelah masa sma
mengenalnya jelas, tanpa resah perjalan di sekolah dasar. Sehancur-hancurnya
muka, jika tidak menghancurkan hati maka tetap tidak berimbas pada masyarakat
kali ciliwung. Ini mengenai hati yang mencintai namun ingin bertemu untuk
mengusap ingus yang menonjol pada hidung yang terserang sinus. Bagaiamana jika
harus mengejarnya seperti mengejar Si putri di sepanjang pagar kampus unpatti
karena keperluan mengembalikan baju praktikum. Aku tak peduli. Bodoh amat. Amat
tak sebodoh mamat yang pergi ke danau toba untuk mengeringkan baju tak bernoda.
Prinsipku tetap sama. Sejak hari ini dan hari kemarin sesaat setelah bermain
kelereng yang mememnuhkan debu di jari.
Feliks Savero Pattinama
Feliks Savero Pattinama