Selasa, 02 Desember 2014

Nirwana



      Nirwanaku seakan berubah setelah beberapa waktu lalu didatangkan lagi oleh suara yang tak ingin aku dengar. Pecundang seperti aku membanggakan sesaat lalu pudar bersama ketukan yang terhenti. Ingin rasanya meninggalkan memori lama dengan sempurna, tanpa mengingat dia yang selalu datang dalam kehidupanku. Sejujurnya saja, belum ada apa-apa yang terjadi antara aku dan dia selama kurun waktu yang mendimensi petaka hidupku ini. namun ini rasa yang diberi Tuhan untuk tetap taat mencintai dia. Karena mencintai itu sakit, jika tidak hidup bersama. Apapun alasanya jika kau tidak mendapatkan apa yang hatimu inginkan, maka ragumu untuk melanjutkan kedamaian hati tidak terbaca oleh siapapun juga. Ini dia wanita yang selalu mekar dihatiku, tanpa matahari menunjukan dimana dan apa yang sementara menimpannya di kota tempat tinggalnya. Masa kuliahku adalah taraf ke dua setelah masa sma mengenalnya jelas, tanpa resah perjalan di sekolah dasar. Sehancur-hancurnya muka, jika tidak menghancurkan hati maka tetap tidak berimbas pada masyarakat kali ciliwung. Ini mengenai hati yang mencintai namun ingin bertemu untuk mengusap ingus yang menonjol pada hidung yang terserang sinus. Bagaiamana jika harus mengejarnya seperti mengejar Si putri di sepanjang pagar kampus unpatti karena keperluan mengembalikan baju praktikum. Aku tak peduli. Bodoh amat. Amat tak sebodoh mamat yang pergi ke danau toba untuk mengeringkan baju tak bernoda. Prinsipku tetap sama. Sejak hari ini dan hari kemarin sesaat setelah bermain kelereng yang mememnuhkan debu di jari.

Feliks Savero Pattinama

Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...