Andaikata piano adalah seorang wanita,
sudah kucintai dia sejak kanak-kanak hingga detik ini. tapi piano tetaplah
piano. Piano bukan wanita. Dan wanita bukan piano. Aku memainkan piano untuk
kesenangan dan kekecewaanku. Aku mencarinya untuk menutup segala lara dalam
pura yang aku lalui. Demi piano aku taruhkan segala jiwa yang membayangi
mimpiku terhadap masa depan. Piano adalah keindahan Tuhan dalam ketenangan
music yang aku lentikan di setiap kekosongan waktu. Piano bukan wanita yang
bisa marah. Piano bukan wanita yang egois. Piano bukan wanita yang bisa pergi
kapan saja. piano bukan wanita yang tak berasa jika sedang dicintai. Piano
bukan wanita yang tak berasa jika sedang dikejari. Karena piano bukan wanita
dan wanita bukan piano. Piano tak punya rasa. Tapi dimaikan oleh manusia yang
memiliki rasa.
Feliks Savero Pattinama
Feliks Savero Pattinama
