Rabu, 03 Desember 2014

Karena piano bukan wanita dan wanita bukan piano

Andaikata piano adalah seorang wanita, sudah kucintai dia sejak kanak-kanak hingga detik ini. tapi piano tetaplah piano. Piano bukan wanita. Dan wanita bukan piano. Aku memainkan piano untuk kesenangan dan kekecewaanku. Aku mencarinya untuk menutup segala lara dalam pura yang aku lalui. Demi piano aku taruhkan segala jiwa yang membayangi mimpiku terhadap masa depan. Piano adalah keindahan Tuhan dalam ketenangan music yang aku lentikan di setiap kekosongan waktu. Piano bukan wanita yang bisa marah. Piano bukan wanita yang egois. Piano bukan wanita yang bisa pergi kapan saja. piano bukan wanita yang tak berasa jika sedang dicintai. Piano bukan wanita yang tak berasa jika sedang dikejari. Karena piano bukan wanita dan wanita bukan piano. Piano tak punya rasa. Tapi dimaikan oleh manusia yang memiliki rasa.

Feliks Savero Pattinama

Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...