Sore itu perasaan hati menggelisahkanku
untuk menulis tentang kesunyian di sekeliling perapian yang tidak
terbakar.tanganku mulai menjamah sebuah pena, dan mengalirkannya seiring dengan
suara dari pikiranku tentang seorang wanita bernama Adinda(nama samaran). Wanita
yang lembut dan sopan tampak seperti bentuk abstrak dari awan gelap di setiap
hari-hariku. Hatiku terbakar hangus, namun tidak binasa.serta merta ragaku
mencair namun tidak ada tetesan air. Bagiku Adinda adalah sekuntum bunga yang
tidak pernah berhenti tumbuh disertai keunggulannya menghasilkan madu (apakah Adinda
adalah tumbuhan?) kebutuhannya adalah panggilanku dalam perang(mungkin adinda
adalah polwan atau kowat). Adinda kuhampiri pada dua dunia, dunia mimpi dan
dunia sadarku(mungkin adinda adalah setan). Adinda tidak mempersoalkan aku, dia
ingin agar aku dan dia bisa menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Apakah Adinda
adalah tulang rusuk yang terbuat dari tanah liat dan menjadi manusia dalam
dagingku (Feliks,…STOP TIPU-TIPU)
Feliks Savero Pattinama
Feliks Savero Pattinama