Jumat, 19 Desember 2014

Feliks melawan mencit dari serangan tikus putih, di Lab Zoologi Fmipa Unpatti



      Antara tikus putih dan mencit ada sesuatu yang harus dituliskan kepada masyarakat yang ingin meneliti keberadaan mereka. Tikus putih berbulu putih tajam, berkaki empat, bekepala besar, berayun dan melompat seperti spiderman. Yang makanya sehari sekali. Kadang-kadang dua. Kadang-kadang tiga. Kadang tak makan yang penting ngumpul. Dengan ukuran yang sekira-kiranya sebesar celengan ayam, dimana dia bisa seenaknya mengajak pasukan untuk memburu kawanan mencit yang belum hebat dalam mengembara dipadang tak berkandang. Pekerjaannya adalah makan, minum, melancong ke kandang lain, berak secukupnya, mencuri, minum-minuman keras(kebohongan public hewan) dan tidur. Kadang-kadang kawin, jika disiapkan lawan jenis yang siap untuk melakukan percintaan antara hewan pengerat ini (ciie). tikus putih adalah hewan pemakan segala. Segalanya dapat dia makan. Makan makanan mencit, pakan ayam, roti, makanan rantangan, makanan basi, mie gelas, teh gelas, teh kotak, teh botol sosro, tehlepon dan tehtangga. Suatu ketika, ketika keti dan ika bertemu kira-kira pukul 5.22 pagi.saya melihat dengan mata di kepala, kepala di kaki (penggalang lagu ariel peterpan) tikus putih berjalan santai dengan sebilah handuk untuk jogging demi menurunkan badan yang hampir memasuki usia 100 gram. Dia terkejut saat melihat saya, saya biasa saja, tapi teman saya sudah pingsan karena tak makan selama seminggu. Saya bertanya kepadanya,  “bang… ojek ya”?... tikus putih segera masuk ke kandang dan bersuara lantang bagai kentang yang telah matang. “Saya bukan ojek, saya tikus putih bersayap tanpa cela dan dosa”. Saya tak ingin lagi mengucapkan sepata kata kepada tikus putih yang sok imut tadi(kami putus). part ke 2 dari bagian yang ke 2 adalah tentang mencit. Mencit adalah pengerat yang sama dengan tikus putih. Yang membedakan adalah ukurannya. Mencit lebih kecil dari tikus putih. Kira-kira ukurannya sekepal tangan manusia. Bentuknya yang kecil membuatnya lebih digemari oleh para bangsawan. Kadang mencit dapat melakukan konser di berbagai negara. konser yang membuatnya semakin asoi dan in the hoy of the linggis on the sky (tak taulah apa artinya itu). cara makanya berbeda dengan tikus putih.(kok bisa???)    
      mencit biasanya mengambil alat makan manusia lalu menggunakannya secara diam-diam(wow).mencuci tangan dengan sabun. Merapikan tempat tidur. Memakai deodorant,dan mengikut ibadah minggu para mencit. Starata mereka begitu tinggi(kata siapa???). Tinggi dalam khayalan sebuah penulisan. Ini bukan sebuah keegoisan. Ini mengenai siapa yang menulis. Dan siapa yang bisa membuat karangan.
      sore itu, sepulang makan malam saya pergi ke lab (laboratorium). Saya melihat sebuah pertengkaran yang hebat antara mencit dan tikus putih. Mereka tidak memaki. Mereka tidak memukul. Mereka tidak berdebat. Hanya saling mengentut. Saya mencoba melarai.namun malas  mengajak saya untuk diam. Akhirnya saya menikmati pertengkaran mereka. Masing-masing saling menembakan angin dari bokong. Banyak mencit yang pingsan dengan aroma kentut tikus putih. Mereka berjatuhan satu demi satu. Mereka tak mampu walaupun bertahan dengan sekuat tenaga. Apa yang akan terjadi dengan mencit? Apakah mereka semua akan kalah dan jatuh miskin? Apakah mereka akan segera dibawah ke RSUM (rumah sakit umum mencit). Apakah mereka akan semakin sesak nafas, dan sesak dada dengan tembakan tanpa ampun dari raksasa yang cin…cin itu?.
      sepuluh menit saya tonton saja. saya juga tidak bisa berbuat banyak. Saya memang ingin membantu. Tapi siapapun tidak bisa mencampuri urusan tikus putih dan mencit saat ini. keadaan ini sungguh panas. Dan hanya waktu yang bisa menjawab semua jawaban yang ditanyakan ini.tiba-tiba lampu padam di seluruh ruangan lab. Gelap gulita seketika. Gua yang saya tempati terasa menakutkan. Apa yang akan terjadi dengan saya di waktu ini. apakah saya akan diserang oleh tikus putih? Jumlah mereka terlalu banyak. Jika dihitung dengan tangan pasti akan terjawab. Tapi ini bukan masalah jumlah. Ini masalah bau yang akan mereka sembur adukan ke ruangan ini. saya mohon jangan racuni saya. Saya mohon dari kalian. Biarkan saya saja yang meracuni kalian dengan racun saya ini. racun yang sudah saya tahan sejak saya bersekolah dasar. Mana mungkin ini bisa terjadi. Masakan saya kalah. Masakan mereka akan menang. Saya kan manusia. Mereka juga binatang. Mereka punya srata yang tidak sebanding dengan saya.(mulai sombong)…
      kami berkelahi hebat. Tikus putih mengeluarkan rasengan yang dimiliki naruto.(ka me ka me haaaaaaa) Saya membalas dengan menggunakan senter pengecil dari kantong ajaib doraemon(piuuuuuuuutttttt). Rasengan itu tak terasa sedikitpun di tubuh saya. Saya tertawa lepas. Lepaskan semua tawamu feliks. Tikus putih tidak akan lagi menjajah mencit. Mencit tidak akan lagi kalah dari sang penguasa lab. Mereka akan bahagia di alam sana nantinya.semua jurus dikeluarkan oleh tikus putih demi mempertaruhkan harga diri mereka sebagai seorang pengerat terbesar di dalam lab. Mulai dari kungfu,taekwando, silat, tapak suci. Tapak naga. Tapi sama saja, semua itu tak mempan bagi manusia sebesar saya. Akhirnya mereka mengalah dan mengibarkan bendera putih pertanda kalah. Mereka malu dan menundukan muka. Menangis dan mengeluarkan cucuran air seni. Mereka berjanji tidak akan lagi menjajah yang lebih kecil dari mereka.
Akhirnya saya menyuruh mereka untuk meminta maaf dan sujud syukur dibawah kaki mencit.
Mereka tertawa dan meminta maaf. Dan saling berjabat tangan. Kemudian berjabat kaki. Lalu memakaikan bando. Lalu mengganti popok mencit. Mengusap ingus. Dan membersihkan wc mencit. Lalu menukarkan uang dolar dengan uang palsu. Kami membeli coca-cola. Tapi tidak merokok dan mabuk alcohol. Kami saling mendoakan. Dan merayakan natal bersama di lab zoology fmipa unpatti. Selamat natal dan tahun baru mencit dan tikus putih. Semoga damai dari Tuhan Yesus ada bagi kita semua. Syallom…
 
Lab Zoologi Fmipa Unpatti
20 desember 2014 _ jam 16.53 WIT

Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...