Minggu, 14 September 2014

Surat ke 2 untuk Adinda



Hallo Adinda (nama samaran) !!! apa kabarmu? Bagaimana keseharianmu? Apakah kau sehat? Ataukah sedang sakit? Semoga kau baik-baik saja…
kalau kau sakit, itu akan membuang-buang uang orangtuamu. Jadi jangan sakit, supaya bisa menabung dari harga kesehatanmu…
aku, Feliks ; Mencoba merangkai kata-kata, namun aku tidak tahu harus mengeluarkannya dengan cara seperti apa. Keinginanku begitu kuat untuk dapat membawamu memetik bintang terindah pada pohon langit malam ini. apakah kau utuh hingga surat ini kau baca? (Adinda adalah potongan puzzle)… apakah kita sedang berpisah? Tentu tidak. Suratku ini adalah tanda kasihku kepadamu. Adinda ; jangan tertawakan kata-kata di atas kertas, yang kini tidak disukai oleh banyak orang. Namun dibalik ketiadaannya yang menghilang, aku gunakan untuk mencairkan kata-kata dalam pikiranku yang sedang sehat. Surat ini tidak bermaksud untuk mengganggu roh cintamu yang sedang diam, tetapi aku sementara tersiksa ketika kau tidak ada. Kau sudah tertangkap oleh jala yang aku tebarkan di sungai cinta ( Adinda adalah putri duyung). Mengapa kau berani memotong setiap talinya? Aku hidup dari kehadiranmu. Kau adalah wanita yang aku tunggu. Bersama surat ini, aku mohon agar kau dapat mengisi kekosongan hatiku (Adinda adalah air galon). Makanan akan terasa enak dan gurih jika aku bersamamu (Adinda yang bayar harga makanan). Biarkan hati ini tertawa ria karena kau menghembusnya dengan senyuman…

aku berdiri gagah bersama segar jiwaku saat kau datang lagi.

Feliks Savero Pattinama

Hari Selanjutnya

 Pada hela nafasmu, namamu berdesis pelan, Ucy, di ruang sanubari terpatri teguh dan kelan. Senyummu mentari pagi, hangatkan jiwa yang beku,...